- Andre Lado
- Barnas Adjidin
- Batik Tulis Garutan
- BPK RI
- Budaya
- DPC PWMOI Kota Kupang
- DPW MOI Provinsi NTT
- dr. Chistian Widodo
- Eben Domaking
- EKONOMI
- Herry Battileo
- HUKRIM
- INFRASTRUKTUR
- Ketua PWMOI NTT
- LKD TA 2023
- Makam Pulau Kera
- NASIONAL
- Oknum Karyawan PLN
- OPINI
- P3HI Provinsi NTT
- PEMERINTAH
- Pemkab Garut
- Pemkot Kupang
- Perlawanan Eksekusi
- PERS
- Pj Bupati Garut
- Polda NTT
- POLITIK
- Polresta Kupang Kota
- Polsek Maulafa
- PWMOI
- REGIONAL
- Rusdy Maga
- Sekretaris MOI Provinsi NTT
- Sekretaris PWMOI NTT
- Serba serbi
- SERBA-SERBA
- SERBA-SERBI
- TNI-POLRI
- UMKM
- Wali Kota Kupang
- Yusak Langga
Doa Jalan Cahaya Hidup
D'pressure-Doa bukan sekadar rangkaian kata yang terucap lirih di bibir, tetapi gerak batin yang menghubungkan hamba dengan Rabb-nya. Di dalam doa ada pengakuan lemah, harap, dan cinta. Ia melatih sabar menanti takdir, meneguhkan tawakkal, serta menjaga akal agar tetap jernih dalam iman dan ketaatan, tanpa terjerumus pada keputusasaan yang memadamkan cahaya hati.
Doa itu ibadah. Kalimat singkat ini memuat makna yang sangat dalam. Ketika seorang hamba menengadahkan tangan, sejatinya ia sedang menegaskan posisinya sebagai makhluk yang bergantung penuh kepada Allah. Doa adalah pengakuan bahwa ada Dzat Mahakuasa yang mengatur segalanya, dan ada manusia yang terbatas daya serta upayanya. Karena itulah, doa bukan pilihan tambahan, melainkan inti dari penghambaan itu sendiri.
Allah menegaskan kemuliaan doa dalam firman-Nya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60). Ayat ini menyandingkan doa dengan ibadah, dan meninggalkannya dengan kesombongan yang berujung murka.
Rasulullah ﷺ mempertegas makna ini dalam sabdanya:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa itu adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi). Bahkan beliau ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Barang siapa tidak memohon kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini menggugah kesadaran bahwa enggan berdoa bukan tanda kuat, tetapi tanda lalai.
Doa juga mengajarkan kesabaran. Tidak semua doa dijawab seketika sesuai keinginan. Ada doa yang dikabulkan segera, ada yang ditunda, dan ada yang disimpan sebagai kebaikan di akhirat. Di sinilah sabar bekerja, menenangkan jiwa agar tetap husnuzan kepada Allah. Allah berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186).
Menanti kepastian takdir dari doa adalah ibadah lain bernama tawakkal. Tawakkal bukan pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil setelah ikhtiar maksimal. Allah berjanji:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. At-Talaq: 3). Janji ini menumbuhkan ketenangan, karena hati yakin tidak berjalan sendirian.
Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya dalam keputusasaan. Keputusasaan lahir ketika iman melemah dan akal kehilangan arah. Padahal Allah telah menegaskan:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5-6). Doa menjaga hati agar tetap hidup, iman agar tetap tegak, dan akal agar tetap jernih membaca tanda-tanda pertolongan Allah.
Maka berdoalah, dalam lapang maupun sempit. Jadikan doa sebagai nafas ruhani yang terus mengalir. Dengan iman, ketaatan, dan akal yang sehat, doa menjadi formula cahaya yang mengantar manusia keluar dari gelap putus asa menuju yakin dan tenang dalam ridha Allah.
(Dwi Taufan Hidayat)


.jpg)